Berita terkini
Makna Mikul Dhuwur Mendhem Njero perspektif akhlaq

www.apikkaliwungu.com_Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam kebudayaan dan adat istiadat yang harus dijunjung tinggi seperti budi pekerti dan barhati luhur harus terus dilestarikan. Tapi kenyataannya sekarang, kaum muda mudi kita banyak yang sudah hilang nilai luhur budi pekertinya ( Akhlaq ) sehingga unggah-ungguh / tata krama terhadap orang tua sudah hilang.
Selain itu, moral pemuda sekarang juga sudah mulai luntur sehingga moral baik semakain menipis terhadap kaum muda sekarang. Contoh saja seperti tawuran merajalela, penggunaan kata-kata yang memburuk, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, kaburnya batasan moral baik-buruk, menurunnya kesemangatan dalam beribadah, rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran, dan adanya saling curiga dan kebencian antara sesama.

Untuk mencegah menipisnya moral yang bertambah parah, pendidikan karakter harus lebih ditingkatkan baik di lingkungan formal, informal maupun nonformal seperti yang ditanamkan dalam lembaga pondok pesantren. Terdapat peribahasa Jawa yang tepat untuk mendidik karakter anak bangsa yang sudah mulai hilang rasa hormatnya pada orang tua, yakni “mikul dhuwur mendhem jero”. Mikul dhuwur mendhem jero dapat diartikan meninggikan atau menonjolkan kelebihan serta kebaikan keluarga dan menutupi kekurangan atau keburukan keluarga. Namun peribahasa tersebut sebenarnya memiliki makna sangat dalam, yakni njunjung drajade wong tuwa (menjunjung tinggi derajat dan harkat martabat orang tua).

Seperti yang diterangkan dalam hadist berikut ini :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {رِضَا الرَّبِّ فِيْ رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللهِ فِيْ سَخَطِ الْوَالِدِ}
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ridha Tuhan itu di dalam ridhanya orang tua, dan ketidak ridhaan Allah itu di dalam ketidak ridhaan orang tua.” (HR. Tirmidhi)

إِذَا مَاتَ إبْنُ آدمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh.” (HR. Muslim)

Peribahasa “mikul dhuwur mendhem jero” mengajarkan bagaimana agar kita mampu menjunjung tinggi derajat dan harkat martabat orang tua, tidak membuat aib dan cela untuk kedua orang tua . Selain itu kita harus bisa menghargai serta menghormati orang tua. Tidak hanya orang tua dalam arti sempit namun juga dalam arti yang lebih luas, yakni orang yang lebih tua, pemimpin, tokoh masyarakat dan sebagainya.

Saat ini jarang sekali kaum muda yang mau menghormati orang tuanya, apa lagi menghormati pimpinan atau orang yang lebih tua. Anak-anak muda sekarang malah banyak yang mengecewakan orang tuanya seperti berbicara kasar, anak gadis dibawah umur sudah hamil diluar nikah. Ini disebabkan karena tidak mendengar perintah dari orang tuanya. Maka dari itu, untuk membentuk moral dan karakter seseorang harus dilandasi oleh tindakan “mikul dhuwur mendhem jero”. Jika kalimat ini sudah diterapkan kepada jiwa pemuda maka akan memupuk moral dan karakter kaum muda untuk semakin baik. Setidaknya batasan moral antara anak dan orang tua dan norma tidak akan lenyap tergerus oleh perkembangan zaman , terhapus arus globalisasi. Indonesia pun bisa semakin maju bukan hanya pada perekonomiannya saja namun pada karakter pemuda dan pemudinya .

Mari kita bangun bangsa kita sebagai bangsa yang bermoral lewat para pemuda dan pemudinya….

Facebook Comments

About the author

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *