www.apikkaliwungu.com.Warga Kaliwungu Kendal mempunyai tradisi unik menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Warga saling bertukar makanan dan jajanan khas yang dipajang di depan rumah warga. Tradisi ini dinamakan weh-wehan atau ketuwin, yang dalam Bahasa Indonesia berarti saling memberi. Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan hanya ada di Kaliwungu Kendal. Dalam tradisi ini, hampir seluruh kampung-kampung di Kaliwungu Kendal selalu ramai, layaknya lebaran warga berkeliling kampung membawa makanan untuk diberikan kepada tetangga ataupun warga lainnya. Anak-anak berpakaian baru membawa makanan untuk diberikan kepada tetangga dan menyambutnya dengan penuh suka cita.
Hampir setiap rumah di Kaliwungu Kendal ini menyiapkan aneka macam jajanan dan makanan. Bukan untuk dijual, melainkan untuk ditukarkan dengan makanan lain yang diberikan tetangga.
Tradisi weh-wehan yang sudah ada sejak dulu ini terus dikembangkan dan selalu dinantikan anak-anak karena bisa menikmati aneka macam jajanan dan makanan. Tradisi weh-weh-an sendiri mempunyai makna syukur dan saling berbagi kepada orang lain, sebagai bentuk rasa cinta atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Makanan yang disajikan dalam tradisi tahunan ini berupa jajanan hingga makanan tradisional yang setiap tahun selalu ada yakni sumpil dan ketan aneka warna. Sumpil makanan dari bahan beras dibungkus dengan daun bambu ini selalu menjadi incaran warga karena jarang dijumpai selain menjelang maulud nabi saja. Menurut warga, weh-wehan mengandung makna yang baik karena mengajarkan untuk saling berbagi dan memberi sejak kecil. “Dalam tradisi ini warga baik miskin maupun kaya, tidak ada batasan dan tidak mengenal suku, agama maupun strata sosial untuk saling memberikan makanan setiap tahunnya.

Yang paling menikmati tradisi weh-wehan ini adalah anak-anak, karena banyak jajanan dan makanan yang didapat dari saling bertukar makanan. Setahun sekali anak-anak di Kaliwungu layaknya pesta makanan dan tidak perlu jajan di warung ataupun membeli, karena makanan dalam tradisi ini diberikan secara cuma-cuma. Bagi warga, tradisi weh-wehan ini mempunyai makna saling berbagi dan mengalap berkah.
Adapun para santri pondok pesantren se-kaliwungu juga mengikuti tradisi ini.Bahkan tidak sedikit dari para alumni Pondok Kaliwungu membawa tradisi weh-wehan ke kampung halaman masing-masing.Mengingat tradisi seperti ini sangatlah positif untuk diterapkan di daerah-daerah yang lain.
Arti dari kata weh-wehan atau saling memberi ini juga mengajarkan kepada kita semua untuk saling berbagi. Makanan yang disajikan kini mulai banyak yang instan namun makanan khas masih dijumpai dan selalu dicari. Tidak hanya makanan khas yang disajikan berbagai macam makanan dan minuman juga disajikan warga sebagai bentuk suka cita menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Semoga Bermanfaat…….
Related Post
Terbaru
- HIMMAHKU PEKALONGAN BERSAMA DZURIYAH PONPES SALAF APIK SALURKAN DONASI UNTUK KORBAN BANJIR
- Asesmen PDF Ulya APIK: Langkah Nyata Peningkatan Mutu Pendidikan Pesantren
- Kang Jalal Jadi Garda Depan Pangan Halal, Baznas-RMI PWNU Jateng-MUI Bersinergi
- DZULQA’DAH BULAN DAMAI, DIPLOMASI, DAN DAKWAH RASULULLAH
- RMI PWNU Jawa Tengah Bersama Baznas Jawa Tengah Dorong Pesantren Melek Digital melalui Pelatihan Digital Marketing
Leave a comment