Kaliwungu Sabtu 08 Desember 2019 M./10 R.Tsani 1441 H.
www.apikkaliwungu.com.Seperti tahun-tahun sebelumnya,Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu Kendal , Ta’mir masjid besar Al Muttaqin Kaliwungu bersama dengan masyarakat pada tahun ini bahu membahu menggelar peringatan KH.Ahmad Ru’yat dan Waliyullah Musyaffa’ yang merupakan tokoh penting sekaligus ulama dan wali dalam sejarah di bumi Kaliwungu kota Santri. Haul diikuti ribuan masyarakat dan Para santri yang ada di Kaliwungu. Bahkan, lembaga pendidikan maarif yang berada di bawah naungan NU diliburkan agar seluruh siswanya dapat turut mengikuti haul yang diadakan di dalam dan di luar masjid besar Al Muttaqin Kaliwungu.
Peringatan haul tersebut adalah tradisi keagamaan yang begitu mengakar di Kaliwungu mengingat kaliwungu merupakan basis NU dan pesantren yang besar. Oleh karenanya, peringatan haul wali maupun ulama selalu diikuti seluruh masyarakat dengan antusias. Antusiasme masyarakat akan terlihat ketika masyarakat, utamanya ibu-ibu para aktivis desa bergotong royong dalam menyediakan konsumsi bagi masyarakat dan santri yang mengikuti haul, suasana guyup begitu terasa.
Peringatan haul diisi dengan pembacaan Maulid Adziba’i dan tahlil, serta diisi pula tausiyah dari KH. M.Sholahuddin Humaidullah Irfan yang membahas tentang sejarah KH.Ahmad Ru’yat dan Waliyullah Musyaffa’. Selain membahas kedua tokoh tersebut, beliau juga menyampaikan tentang manfaat haul itu sendiri. “Wali dan ulama merupakan orang yang dekat dengan Allah, maka dengan mendoakan mereka, kita juga termasuk orang yang dekat dengan Allah,” katanya. KH.Ahmad Ru’yat dan Waliyullah Musyaffa’ sendiri merupakan wali yang makamnya ramai dikunjungi para peziarah hingga saat ini. Kaliwungu menyimpan banyak kisah kewalian beliau berdua, terutama ketika masa penjajahan Jepang.
Di suatu kisah diceritakan, pada tahun 1940, Waliyullah Musyaffa’ menggali tanah yang begitu dalam, masyarakat terheran-heran dan mengira tanah itu akan digunakannya untuk membuat sumur ( tepatnya di Pon Pes Salaf APIK ). Namun selang beberapa saat, tiba-tiba saja pasukan penjajah dari Jepang menyerbu Kaliwungu, dan lubang tanah yang digali Wali Musyafak itu pun menjadi tempat persembunyian masyarakat yang ada di sekitar rumahnya. Sementara Mbah Ru’yat juga merupakan wali yang sangat kharismatik dan begitu disegani masyarakat Kaliwungu, nasab Mbah Ru’yat sampai pada Jaka Tarub, leluhur dari raja-raja kesultanan Mataram.
Kontribusi besar yang diberikan Mbah Ru’yat untuk masyarakat Kaliwungu adalah Penerus tongkat kepengasuhan Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu menggantikan paman beliau yaitu KH.Irfan Bin Musa dan menjadi pelopor berdirinya Pondok Pesantren Putri Pertama Kali di Kaliwungu, yakni Aribatul Islami (ARIS). Waktu itu, Mbah Ru’yat menginginkan ada kesetaraan hak baik laki-laki maupun perempuan dalam ngangsu kaweruh di pondok pesantren. Kedua wali Kaliwungu, Mbah Ru’yat dan Waliyullah Musyaffa’ juga merupakan tokoh yang memberikan sumbangsih yang begitu banyak dalam sejarah Islam dibumi Kaliwungu, terutama di terkait perkembangan Islam ala Ahlussunah wal Jamaah dan pondok pesantren. \
Semoga Kita semua diakui sebagai santri beliau berdua dan para Masyayikh Kaliwungu. Amiiinnn Lahumul Fatihah…..
Leave a comment