Berita terkini
Tradisi Syawalan di Kota Santri Kaliwungu

www.apikkaliwungu.com.-Tradisi Syawalan, setelah Lebaran di Kecamatan Kaliwungu, Kendal menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Kendal dan sekitarnya. Di mana, banyak lapak penjual musiman yang berjejer di tepi jalan untuk berjualan. Seperti mainan dari tanah liat, hiasan bunga, perabotan, pakaian, kuliner, aksesoris, sepatu, jam tangan, bahkan makanan sekalipun terhidangkan dalam tradisi Syawalan.

Para pedagang ini memenuhi di beberapa titik lokasi. Seperti di pusat keramaian di Alun-alun Kaliwungu, Masjid Besar Al-Muttaqin, di sepanjang Jalan KH Asyari dan Jalan Pangeran Djuminah, sampai di Pasar Sore atau Gladak. Sehingga untuk sementara jalan tersebut ditutup, untuk kegiatan tersebut. Dan gang-gang kecil di sepanjang jalan digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menyediakan jasa tempat parkir kendaraan roda dua pengunjung.

Lalu titik keramaian lainnya, juga tampak di sekitar lokasi makam Desa Kutoharjo, Kaliwungu sebagai tempat wisata religi. Karena banyak peziarah yang datang, selain dari wilayah Kendal, dan berbagai daerah di Jawa Tengah, juga dari kota besar lainnya di Indonesia. Pada umumnya, mereka menggunakan mobil bak terbuka dan bus wisata sebagai moda transportasi.

Para peziarah berduyun-duyun datang untuk melakukan wisata reliji di beberapa makam para ulama dan tokoh agama. Salah-satunya makam Kiai Asyari, atau Kiai Guru, seorang tokoh agama dan penyebar agama Islam di Kaliwungu Kendal dan sekitarnya.

           Seperti diketahui, tradisi Syawalan sebenarnya adalah haul Kiai Asyari. Kiai Asyari adalah penyebar agama Islam di Kaliwungu ( Pendiri Masjid Besar Al Muttaqien Kaliwungu ), setelah Sunan Katong .

Sejarah Adanya Syawalan di Kaliwungu


           Salah satu bentuk penghormatan terhadap makam orang-orang saleh di Kaliwungu lahir apa yang disebut sebagai Syawalan. Salah satu tradisi keagamaan yang berupa peringatan wafatnya (khoul) ulama dalam masyarakat masa lalu, yang diadakan pada setiap tanggal 8 Syawal, yakni satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, setiap tahun.
Pada mulanya Syawalan berasal dari sebuah peringatan meninggalnya (Khoul) ulama besar Kaliwungu, Kyai Asy’ari (Kyai Guru) dengan cara me-ziarahi kuburnya setiap tanggal 8 Syawal, setiap tahun. Sunan Katong hari wafatnya (khoulnya) diperingati setiap bulan Rajab setiap tahun, biasanya jatuh pada pasaran kliwon, Sayyid Bakhur (Bakir) bin Ahmad bin Sayyid Bakri (Wafat 8 April 1965) dan istrinya Hubabah Fatimah binti Sayyid Ali Akbari (almarhumah) (wafat 21 Januari 1989) khoulnya setiap bulan Besar (hari Raya Qurban).

Sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, kemudian lokasi ziarah berkembang ke makam Pangeran Mandurorejo, dan Pangeran Pakuwaja, Kyai Mustofa, Kyai Rukyat, dan Kyai Musyafa’.


Awalnya kegiatan ziarah mengirim doa di makam Kyai Asy’ari ini hanya dilakukan oleh keluarga dan keturunan Kyai Asy’ari, tetapi lama kelamaan diikuti oleh masyarakat muslim di Kaliwungu dan sekitarnya. Akhirnya, kegiatan itu semakin massif terjadi setiap tahun, bahkan objek lokasi ziarah melebar bukan hanya kepada makam Kyai Asy’ari atau “Kyai Guru”, akan tetapi juga ke makam Sunan Katong, Pangeran Mandurarejo, seorang Panglima Perang Mataram, dan Pangeran Pakuwaja. Belakangan para peziarah merambah juga berziarah ke makam Kyai Musthofa, Kyai Musyafa’, dan Kyai Ahmad Rukyat.
Makam Kyai Asy’ari, Makam Pangeran Mandurarejo, dan Sunan Katong terletak di jabal sebelah selatan desa Protomulyo, sedang makam Kyai Mustofa dan Kyai Musyafa’ terletak di jabal sebelah utara-barat.

Biasanya Tradisi Syawalan dibuka langsung oleh Bupati Kendal,Kemudian acara dilanjutkan jalan kaki bersama-sama para kyai dan masyarakat santri Kaliwungu menuju makam Kyai Asy’ari.

Situs yang menjadi pusat kegiatan Syawalan-pun beragam, mulai dari masjid Al-Muttaqin (peningalan para kiai kharismatik Kabupaten Kaliwungu) hingga Astana Kuntu Layang. Astana yang terletak di Protowetan Kaliwungu ini tak lain adalah makam para kiai sepuh Kaliwungu yang masih keturunn Mataram.


Semua situs tersebut menyiratkan bukti sisa-sisa kejayaan dan kemasyuran dakwah Islam yang dirintis ulama pendahulu di Kaliwungu. Lihat saja situs Masjid Al-Muttaqin yang berada di antara alun-alun dan pasar Kaliwungu. Bangunan megah ini juga menyiratkan keagungan syiar Islam pada saat itu.Meski perluasan dan penambahan sudah dilakukan di sana sini, keagungan masjid ini tetap tak terhapuskan. Pada perayaan Syawalan yang berlangsung selama tujuh hari, masjid yang dibangun oleh Kyai Guru tersebut menjadi pusat keramaian.


Burung kuntul Situs Astana Kuntul Layang, yang menjadi tujuan kirab kelambu, berada di atas bukit yang membentang di selatan alun-alun Kaliwungu. Sehingga, dari astana ini dapat dilihat pemandangan alun-alun dan kota santri Kaliwungu.Menurut juru kunci makam, Astana Kuntul Layang terdiri atas lima bagian utama yang dianalogikan sebagai bagian dari burung kuntul (bangau) yang sedang melayang.


Bagian pertama adalah dada yang merupakan cungkup kompleks makam Sunan Katong (ulama yang diyakini tertua di Kaliwungu) serta para Bupati Kendal. Bagian kedua adalah sayap kanan yang merupakan kompleks cungkup makam Kyai Musyafak, Kyai Rukyat serta Kyai Mustofa.


Bagian berikutnya adalah sayap kiri, yang merupakan kompleks makam Kyai Mandurorejo, Pangeran Puger dan Kyai Asy’ari (Kyai Guru). Sedangkan bagian ekor merupakan kompleks makam Pakuwojo, serta bagian kepala kompleks makam Pangeran Djoeminah (leluhur bupati Kaliwungu) dan para bupati Kaliwungu.


Pada tiap tanggal 5-9 Syawal, kompleks astana tersebut dibuka dan ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. “Puncak perayaan Syawalan di Kaliwungu adalah pada hari ketujuh Syawal. Kirab dan penggantian kelambu Kyai Guru menjadi daya tarik ribuan peziarah,”


Meriam Mataram Peninggalan dakwah dan kejayaan Kabupaten Kaliwungu juga dapat dilihat dari beberapa situs yang masih tersisa. Antara lain, Gapura Pungkuran sebagai lambang supremasi Kabupaten Kaliwungu saat itu. Gapura itu berada di depan Mushala Pungkuran yang dulunya merupakan kantor Bupati Kaliwungu. Di bawah gapura bertuliskan huruf Jawa itu dipasang sebuah meriam peninggalan kerajaan Mataram.


Keramaian syawalan tentu saja mengundang orang untuk datang, dan sesuai dengan hukum pasar dimana ada keramaian pastilah disitu juga ada pedagang yang “mremo” di acara syawalan, bahkan pengunjung yang datang sebagian besar bukan untuk berziarah syawalan melainkan untuk menikmati keramaian itu yang dimeriahkan oleh berbagai macam penjual dan aneka permainan anak-anak. Aneka hiburan tersedia dari mulai permainan anak-anak semacam komedi putar, hingga hiburan orang dewasa semacam Tong Setan dan masih banyak jenis permainan yang ada di Tradisi Syawalan.

Semoga Bermanfaat………

Facebook Comments

About the author

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *